WELLCOME

ENJOY WITH ME

Senin, 22 Desember 2014

TUGAS KELOMPOK SOFTSKILL (The Need for Realism in Business Ethics)

NAMA    : Anisa Fitri Wulansari        ( 10211920 )
                    Dedi Pangaribuan             ( 11211809 )
                    Rachmadini Febriando      ( 15211702 )



PERLUNYA REALISME DALAM ETIKA BISNIS


I.  PENDAHULUAN 



          Meskipun pendekatan konvesional dalam etika bisnis telah sukses dalam memijah sebuah industri dan mendorong kebijakan publik yang merugikan , tapi masih tersimpan kebingungan yang mendasar . Kurangnya realisme tentang bisnis atau etika , trend yang lazim dalam etika bisnis merusak perilaku etika yang benar dan kebebasan individu .
Trend yang lazim dalam tika bisnis , yang di maksud di sini adalah pendekatan konvesional yang terdiri dari rentang yang luas dari akademis dan doktrin yang populer .

II.  KEBINGUNGAN YANG MENDASAR

a.  Kegagalan dalam membedakan antara “BISNIS” dan “PERUSAHAAN” etika bisnis yang konvesional dan CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) menganggap bisnis dan perusahaan adalah sama , padahal sebenarnya secara kategori berbeda . “PERUSAHAAN” – “KORPURASI” merancang struktur organisasi tertentu yang mempunyai tujuan tertentu yang di setujui oleh pemegang saham ; itu bukan lah bisnis . Sebaliknya “BISNIS” merancang tujuan tertentu ; memaksimalkan value (nilai) dari pemilik (owner) dalam jangka panjang dengan menjual barang dan jasa .Tujuan definitif bisnis di peroleh tidak dari perusahaan tetapi kepemilikan tunggal dan kemitraan . Para pendukung etika bisnis mengalamatkan mereka kepada perusahaan dan menggunakan istilah CSR , mereka mengabaikan bisnis secara luas . Sebaliknya , para pendukung SCR menganggap bahwa perusahaan harus di bisniskan , mereka terus menerus menggambarkan persyaratan dari tata kelola perusahaan dan tanggung jawab perusahaan .

b.      Kegagalan untuk mengenali peranan tujuan dalam pendekatan konvesional , tidak mengenal dua kebenaran mendasar , yaitu :
-Bahwa hanya sebuah bisnis yang dapat menjadi sebuah bisnis yang etis.
-Bahwa apa yang di sebut oleh sebuah bisnis yang etnis tergantung pada tujuan bisnis .


       III.  PENOLAKAN DOKTRIN STAKEHOLDER (DOKTRIN PEMANGKU
              KEPENTINGAN)

           Tujuan bisnis selalu di kecualikan oleh dasar yang biasa dari etika bisnis yang konvesional dan CSR = penemuan cacat dari doktrin stakeholder . Istilah “STAKEHOLDER” terkait dengan 3 pandangan berbeda :

·         Yang 1 dan 2 adalah pandangan biasa tidak mempunyai signifikasi moral tertentu.
·         Yang ke 3 sebagian besar tidak koheren

           Dengan menggunakan stakeholder artinya mengenali bahwa orang lebih memberi perhatian dalam sebuah proses ketika mereka secara materiil terlibat dalam hasilnya . Definisi stakeholder dalam sebuah organisasi  menurut R.Edward Freeman adalah kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau di pengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi . Pencapaian adalah aktivitas dalam mengejar tujuan , tidak hanya sukses dalam melakukannya . Diadopsi dari Uni Eropa , definisi tersebut mengecualikan semua kriteria dari materialitas , kedekatan , dan legitimasi . Kritik terhadap stakeholder :

a.       Doktrin stakeholder bertentangan dengan bisnis
1.      Doktrin stakeholder mengindikasikan banyak tumpang tindih dan sering memicu konflik kapasitas individu atau kelompok yang disebut sebagai stakeholder .
2.      Dalam Doktrin stakeholder tidak ada kriteria apa yang merupakan benefit stakeholder .
3.      Tidak ada petunjuk bagaimana mereka harus seimbang .
b.      Doktrin stakholder merusak akuntabilitas
c.       Doktrin stakeholder tidak tepat
d.      Implikator penting Doktrin stakeholder

IV.  ETIKA BISNIS KONVESIONAL KONTRA PRODUKTIF

a.       Etika bisnis yang konvesional tidak bertanggung jawab dan tidak etis
b.      Etika bisnis konvesional merusak hak asasi manusia
c.       Hukum yang tidak etis
d.      Bahaya ketentraman

V.  ETIKA BISNIS YANG REALISTIS

           Kunci etika bisnis yang realistis sangat simpel . Bisnis adalah etis ketika memaksimumkan Value (nilai) dari owner (pemilik) dalam jangka panjang dengan menghormati Distribute Justice (keadilan yang merata) dan Ordinary Decency (kesopanan)
-          Jika sebuah organisasi tidak langsung memaksimumkan value dari pemilik , itu bukanlah sebuah bisnis .
-          Jika tidak mengejar tujuan yang memuaskan Distribute Justice dan Ordinary Dencency , itu bukanlah etika .
a.       Etika yang bagus adalah bisnis yang bagus
b.      Tanggung jawab sosial sebagai stakeholder

 
            Pernyataan misi organisasi dan Retovika Politik mencerminkan etika bisnis yang konvesional kelihatan tidak merugikan , tetapi merefleksikan kebingungan dan doktrin yang berbahaya . Seperti bermahaman konvesional , etika bisnis dan CSR bukan hanya berbahaya untuk bisnis tapi juga keekstensian dan bisnis itu sendiri . Untuk memerangi pendekatan konvesional dalam etika bisnis dan CSR membutuhkan 2 fakta mendasar .

1.      Hanya sebuah bisnis yang dapat disebut bisnis yang etis
2.      Untuk menjadi sebuah bisnis yang etis , sebuah organisasi harus memaksimalkan nilai dari pemilik dengan menghormati Distribute Justice dan Ordinary Decency .

            Pentingnya mengatakan kebenaran yang mendasar ini , ketika krisis ekonomi telah di kaitkan kepada kegagalan pasar di bandingkan kebijakan pemerintah , bisnis secara aktive di serang . Kebebasan dan bisnis yang benar-benar etis di butuhkan dan pahit di terima dalam proteksi dari etika bisnis yang konvesional .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar